Slide 1 Title Here

Your Description Here..................................

Slide 2 Title Here

Your Description Here..................................

Slide 3 Title Here

Your Description Here..................................

Slide 4 Title Here

Your Description Here..................................

Slide 5 Title Here

Your Description Here..................................

• Bukti-bukti Kehidupan pengaruh Islam yang masih ada pada saat ini

Maret 13, 2019 |

banyak bukti atau peninggalann jaman kerajaan islam pada saat itu yang membuat kita percaya bahwa ada masa kerajaan islam yang tertinggal .

6 Peninggalan Kerajaan Islam di Indonesia yang Masih Bertahan sampai Sekarang

Masuknya agama dan kebudayaan Islam ke Nusantara secara langsung maupun tidak langsung jelas berpengaruh besar terhadap kebudayaan dan cara hidup masyarakat Tanah Air.
Adanya proses Islamisasi ini kontan membawa dampak dan perubahan di segala bidang kehidupan, mulai dari bidang ekonomi, sosial, politik, pendidikan, bahkan budaya.
Seperti kita tahu, jauh sebelum Islam datang, masyarakat Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh ajaran Hindu-Budha, namun seiring masuknya Islam ke Nusantara, proses percampuran budaya pun menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Pun dalam kegiatan sehari-hari, pola hidup mereka mulai beralih dan sedikit demi sedikit terpengaruh oleh budaya Islam.
Besarnya pengaruh budaya Islam ini bahkan sampai merambah ke setiap lapisan masyarakat, tak terkecuali kerajaan-kerajaan Islam yang memerintah pada masa itu.
Alhasil, banyak peninggalan kerajaan bercorak islami yang hingga sekarang masih bisa kita jumpai, di antaranya meliputi:

1. Keraton atau Istana

Keraton atau istana merupakan bangunan luas yang dipakai sebagai tempat tinggal raja atau ratu yang sedang memerintah.
Selain itu, keraton juga biasanya difungsikan untuk menjalankan urusan-urusan kerajaan. Keraton umumnya dikelilingi oleh tembok besar yang tinggi sebagai simbol “pemisah” antara raja dengan rakyat biasa.
Nah, di Indonesia sendiri ada cukup banyak peninggalan kerajaan Islam berupa keraton yang masih sangat terjaga sampai hari ini, seperti:
  • Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Daerah Istimewa Yogyakarta)

Foto Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Daerah Istimewa Yogyakarta)
Wikipedia.com
  • Pura Pakualaman (Daerah Istimewa Yogyakarta)
  • Keraton Surakarta Hadiningrat (Jawa Tengah)
  • Pura Mangkunegaran (Jawa Tengah)
  • Keraton Banten (Banten)
  • Keraton Kasepuhan (Jawa Barat)
  • Keraton Kanoman (Jawa Barat)
  • Keraton Kacirebonan (Jawa Barat)
  • Keraton Maimun (Sumatra Barat)
  • Istana Bima (Nusa Tenggara Barat)

2. Masjid

Peninggalan kerajaan Islam yang kedua yang bisa dengan mudah kita temui adalah masjid. Ya, sebagai tempat ibadah sudah tentu bangunan ini menjadi poin yang tidak mungkin dilewatkan oleh para anggota kerajaan pada masanya.
Umumnya, masjid dibangun di alun-alun dekat dengan keraton. Di Indonesia, ada banyak peninggalan kerajaan Islam yang berwujud masjid, antara lain:
  • Masjid Agung Demak (Demak)

Foto Masjid Agung Demak dari atas drone
pusakaindonesia.org
  • Masjid Agung Surakarta (Surakarta)
  • Masjid Kudus (Kudus)
  • Masjid Agung Kasepuhan (Cirebon)
  • Masjid Sunan Ampel (Surabaya)
  • Masjid Agung Banten (Banten)
  • Masjid Sendang Duwur (Tuban)
  • Masjid Baiturrahman (Aceh)
  • Masjid Agung Yogyakarta (Yogyakarta)
  • Masjid Mantingan (Jepara)

3. Makam dan Batu Nisan

Ya, Anda tidak sedang salah membaca. Selain keraton dan masjid, makam lengkap beserta batu nisannya yang bercorak Islam juga banyak ditemukan di Indonesia sebagai bukti peninggalan sejarah kerajaan Islam.
Beberapa makam kuno bernapaskan Islam di antaranya:
  • Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon (Jawa Barat)
  • Makam Sunan Tembayat di Klaten  (Jawa Tengah);
  • Makam Troloyo di Mojokerto (Jawa Timur)
  • Makam raja-raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta
  • Kompleks makam Sultan Hasanuddin di Gowa (Sulawesi Selatan)
  • Makam Sunan Bonang di Tuban (Jawa Timur)
  • Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon (Jawa Barat)
Sedangkan batu nisan peninggalan kerajaan Islam biasanya ditandai dengan corak tulisan Arab dengan desain kaligrafi pada permukaannya.
Beberapa nisan peninggalan kerajaan Islam di Indonesia yang bisa kita jumpai antara lain:
  • Batu nisam makam Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik, Jawa Timur. Batu nisan ini berangka tahun 1082 M atau 475 H.
  • Batu nisan makam Sultan Malik al Saleh dari Samudra Pasai. Batu nisan ini berangka tahun 1297 M atau 696 H.
  • Batu nisan makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur. Batu nisan ini berangka tahun 1419 M atau 822 H.
  • Batu nisan makam berangka tahun 1380 M (781 H) dan 1389 M (789 H) di Munje Tujoh, Aceh Utara.

4. Pesantren

Budaya Islam memang snagat kuat pengaruhnya di segala bidang, termasuk di bidang pendidikan. Nah, salah satu bukti bahwa agama Islam memiliki pengaruh yang cukup bisa diperhitungkan adalah berdirinya sekolah berbasis agama atau yang biasa disebut dengan pesantren.
Lembaga pendidikan yang satu ini memang sudah ada sejak Islam mulai berkembang di Indonesia.
Di Indonesia sendiri ada cukup banyak pesantren yang menjadi rujukan para pelajar yang ingin menimba ilmu umum dan ilmu agama, seperti Pesantren Ampel Denta di Surabaya dan Pesantren Prabu Giri Satmaka di Gresik. Pesantren Ampel Denta sendiri didirikan oleh Sunan Ampel, salah seorang anggota Walisongo.  

5. Seni dan Sastra

Tidak hanya pada bidang pendidikan, masuknya Islam ke Indonesia juga berpengaruh besar terhadap perkembangan seni dan sastra di Tanah Air.
Ada cukup banyak peninggalan Islam di bidang sastra yang terkenal sampai sekarang, seperti Hikayat Panji Inu Kertapati, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Si Miskin, Hikayat Bahtiar, Hikayat Hang Tuah, Syair Abdul Muluk, serta Gurindam Dua Belas.

6. Perayaan Keagamaan

Cukup banyak perayaan keagamaan peninggalan kerajaan Islam yang turun temurun dilestarikan sampai hari in, di antaranya adalah Garebek Besar, Garebek Syawal, dan Garebek Maulud atau Sekaten yang diadakan di Keraton Surakarta, Yogyakarta, dan Cirebon.
Ada juga perayaan Tabuik yang dilaksanakan di Sumatera Barat. Festival Tabuik sendiri merupakan perayaan untuk mengenang meninggalnya Hussein, putra Khalifah Ali bin Abi Thalib yang tidak lain adalah cucu Nabi Muhammad SAW.

Read More

• Kerajaan-kerajaan Islam

Maret 13, 2019 |

banyak kerajaan islam yang dahulu kala ikut serta dalam membangun keislaman di nusantara ada beberapa kerajaan islam di nusantara dalam membangun peradaban islam di nusantara.

LENGKAP 13+ Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia Raja, Peninggalannya

Kerajaan Islam di Indonesia – Di zaman dulu, Indonesia bukan merupakan negara yang menganut sistem demokrasi. Indonesia atau dulu nusantara, memiliki sejarahnya sendiri. Di nusantara terdapat beberapa kerajaan-kerajaan besar, seperti Kerajaan Kutai, Kerajaan Mataram, Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Kediri, Kerajaan Singasari, Kerajaan Majapahit, dan lainnya. Kerajaan-kerajaan tersebut merupakan kerajaan yang memiliki kekuasaan dan pengaruh besar di nusantara pada saat itu.
Beberapa kerajaan yang disebutkan itu merupakan kerajaan dengan corak Hindu-Budha. Namun, selain kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di nusantara juga pernah berdiri beberapa kerajaan islam. Islam tentu saja memiliki sejarahnya sendiri juga di nusantara. Maka dari itu, kami akan sedikit membahas sejarah masuknya Islam di Indonesia.
Contents [show]

Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia

sejarah masuknya islam ke indonesia
Sebenarnya islam sudah masuk ke nusantara sejak abad ke-7 M. Agama islam tersebut dibawa oleh pedagang dari Arab, Gujarat, dan Persia. Pada saat itu islam masih menjadi agama minoritas di nusantara. Belum banyak yang menganut islam karena memang masih merupakan sesuatu yang baru di nusantara. Penyebaran islam di nusantara berlangsung cukup lama, yaitu mulai dari abad ke-7 M sampai abad k-13 M. Pada abad ke-13 M itulah orang mulai mengenal dan mulai memeluk agama islam.
Pedagang dari Arab, Gujarat, dan Persia itulah yang berperan dalam penyebaran islam pertama kali di nusantara. Penyebaran agama islam tersebut dimulai dari daerah-daerah pusat perdagangan, seperti daerah pesisir yang dekat dengan pelabuhan-pelabuhan. Semenjak itu, pengaruh islam di nusantara mulai menguat, hal itu dibuktikan dengan mulai berdirinya kerajaan-kerajaan islam di nusantara.

Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia

kerajaan islam di indonesia
Setelah pengaruh Kerajaan Hindu-Budha mulai surut, muncul kerajaan-kerajaan islam di Nusantara. Misalkan saja, semenjak pengaruh Kerajaan Sriwijaya mulai menurun, mubaligh-mubaligh yang telah memeluk agama Islam terlebih mulai semakin gencar menyebarkan agama islam ini di sekitar Malaka, dan puncaknya terdapat beberapa kerajaan islam di sekitar selat malaka, seperti Kerajaan Perlak, Kerajaan Malaka, dan Kerajaan Samudra Pasai.
Begitu juga di pulau jawa, semenjak Kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran, terdapat kerajaan islam yang muncul, seperti Kerajaan Demak, Kerajaan Pajang, Kerajaan Islam Mataram, Kerajaan Islam Cirebon, Kerajaan Islam Banten, dan lainnya.
Kerajaan-kerajaan tersebut pastinya memiliki banyak sekali pengaruh di masanya. Agar Anda tidak penasaran dengan kerajaan-kerajaan islam yang pernah berdiri di Indonesia, kami akan memberikan sedikit paparan terkait beberapa kerajaan tersebut. Berikut beberapa kerajaan islam di Indonesia yang harus Anda ketahui.

Kerajaan Perlak

kerajaan perlak
Kerajaan ini merupakan kerajaan islam pertama yang berdiri di Indonesia, yang pada saat itu dikenal dengan nusantara. Pada saat itu Perlak merupakan salah satu kota dagang yang sangat terkenal. Raja pertama dari kerajaan ini, yaitu Sultan Alauddin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah. Kerajaan Perlak atau Kerajaan Peureula ini didirikan sekitar petengahan abad ke-9 M.
Sedangkan menurut Ishak Makarani Al Fays, Kerajaan ini didirikan pada 1 Muharram 225 H (840 M). Terdapat beberapa bukti tertulis yang menyebutkan bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan islam pertama di Indonesia.
  1. Tazkirah Thabakat Jumu Sultan as Salathin, naskah yang dikarangan oleh Syeh Syamsul Bahri Abdullah.
  2. Silsilah Raja-raja Perlak dan Pasai, naskah yang dikarangan oleh Saiyid Abdullah Ibn Saiyid Habib Saifuddin.
  3. Idharatul Haq fi Mamlakatil Farlah wa Fasi, naskah yang dikarang oleh Abu Ishak Makarani Al Fasy.
Ketiga naskah tersebut menyebutkan bahwa Kerajaan Perlak merupakan kerajaan islam pertama di Indonesia. Terdapat beberapa peninggalan dari kerajaan ini, yaitu,
Makam Raja Benoa
Pada batu nisan Raja Benoa (Benoa merupakan salah satu bagian dari Kerajaan Perlak) ditulis menggunakan huruf arab. Makan Raja Benoa ini terletak di tepi Sungai Trenggulona. Diperkirakan nisan ini dibuat sekitar abad ke-4 H tau ke-5 H.
Mata uang perlak
Merupakan mata uang tertua di nusantara, mata uang ini terbagi menjadi 3 jenis, yaitu terbuat dari tembaga atau kuningan, perak (kupang), dan emas (dirham).

Stempel kerajaan

Terdapat stempel kerajaan Negeri Bandahara (kereajaan yang merupakan bagian dari Kerajaan Perlak) yang menggunakan huruf arab. Pada stempel tersebut tertulis kalimat “Al Wasiq Billah Kerajaan Negeri Bendahara Syah 512”.
Itulah, beberapa peninggalan dari kerajaan yang diperkirakan merupakan kerajaan islam tertua di Indonesia. sekitar abad ke-12 M Kerajaan Perlak mulai mengalami kemunduran.

Kerajaan Samudra Pasai

kerajaan samudra pasai

Kerajaan ini berdiri sekitar abad ke-13 M. Kerajaan ini trletak di Kabupaten Lokseumae, Aceh Utara. Kerajaan ini merupakan gabungan dari 2 kerajaan yang sedang mengalami kemunduran, yaitu Kerajaan Pase dan Kerajaan Perlak. Kedua kerajaan tersebut dipersatukan oleh penguasa daerah pada saat itu, Marah Silu (Meurah Silu) yang dibantu Syeh dari Makkah, Syeh Ismail.
Marah Silu merupakan raja pertama sekaligus pendiri kerajaan ini, raja yang mendapat gelar Sultan Malik al Saleh. Tahun 1297 Sultan Malik al Saleh meninggal, ia digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Mahmud. Pada saat kepemimpinan Sultan Muhammad Malik al Tahir (1297-1326) kerajaan Samudra Pasai menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama islam.
Pada tahun 1326 Sultan Muhammad Malik al Tahir meninggal digantikan oleh putranya Sultan Ahmad, sultan yang juga bergelar Malik al Tahir (1326-1348).
Pada masa kepemerintahan Sultan Ahmad Malik al Tahir Kerajaan Samudra Pasai berkembang pesat, kerajaan ini banyak menjalin kerjasama dengan beberapa kerajaan islam di dunia lainnya, seperti kerajaan-kerajaan di India dan Arab. Pada tahun 1348 Sultan Ahmad meninggal dan digantikan oleh Sultan Zainal Abidin. Namun, pada tahun 1521 M kerajaan ini runtuh karena berhasil ditaklukan oleh Portugis.
Keberadaan Kerajaan Samudra Pasai dibuktikan dengan beberapa peninggalan, seperti makam Sultan Malik al Saleh, makam Sultan Zainal Abidin, naskah surat Sultan Zainal Abidin, makam Ratu al Aqla, cakra donya, dan stempel kerajaan.

Kerajaan Aceh Darussalam

krajaan aceh
Kerajaan Aceh diperkirakan berdiri pada tahun 1514. Kerajaan ini terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan sebutan Kabupaten Aceh Besar. Raja pertama Kerajaan Aceh, yaitu Raja Ibrahim (1514-1528), yang bergelar Sultan Ali Mughayat Syah. Di bawah kepemimpinan Sultan Ali Kerajaan Aceh menjadi kerjaan yang besar dan kokoh. Namun, ia memimpin dalam waktu yang tidak lama.
Pada tahun 1528 Sultan Ali Mughayat meninggal dan digantikan oleh putranya Sultan Salahuddin (1528-1537), kemudian ia digantikan oleh adiknya yang bernama Sultan Alaudin Ri’ayat Syah (1537-1568), yang medapat gelar Al Qohhar berkat kegagahan dan keberhasilannya mengusai beberapa wilayah.
Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa kepemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), di bawah kepemimpinannya Kerajaan Aceh memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luat. Selain itu, kerajaan ini juga berhasil menjalin kerjasama dengan para pemimpin islam di Arab. Hubungan yang terjalin tersebut pada masa kekhalifahan Ustmaniyah.
Kerajaan ini mulai mengalami kemunduran sejak tahun 1941. Salah satunya adalah karena semakin menguatnya pengaruh Belanda di Malaka. Kemunduran tersebut ditandai dengan jatuhnya beberapa wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh ke tangan Belanda. Selain karena faktor tersebut, juga karena faktor perebutan kekuasaan di antara pewaris kerajaan.
Beberapa peninggalan Kerajaan Aceh, yaitu Masjid Raya Baiturrahman, makam Sultan Iskandar Muda, meriam Kerajaan Aceh, Benteng indrapatra, emas Kerajaan Aceh, dan Gunongan.

Kerajaan Demak

kerajaan demak

Kerajaan Demak merupakan kerajaan islam pertama di pulau jawa. Pada awalnya wilayah ini bernama Bintoro, salah wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Karena semakin lemahnya pengaruh Kerajaan Majapahit, hal tersebut mengakibatkan beberapa penguasa daerah mulai membangun wilayah kekuasaannya sendiri, termasuk penguasa islam di pesisir pantai Jawa.
Mereka membangun wilayah kekuasaan islam dengan menunjuk Raden Patah sebagai raja dari Kerajaan islam pertama di pulau jawa ini. Setelah diangkat menjadi raja, Raden Patah mendapat gelar Senopati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayyidina Panatagama.
Kerajaan Demak berdiri pada tahun 1478. Palembang, Maluku, Banjar, dan wilayah bagian utara pulau jawa merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Demak. Pada saat ulama penempati peranan penting di dalam kerajaan, Sunan Kalijaga dan Ki Wanalapa adalah penasehat kerajaan. Tahun 1207 Raden Patah digantikan oleh Putranya yang bernama Pati Unus. Pada masa kepemimpinannya Adipati Unus atau yang sering dijuluki Pangeran Sabrang Lor ini bersama dengan Kerajaan Aceh menyerang Portugis yang menduduki Malaka pada saat itu.
Pati Unus meninggal pada tahun 1521 dan digantikan oleh adiknya, yaitu Sultan Trenggono. Kerajaan ini mengalami kemunduran karena perebutan kekuasaan antar pewarisnya. Beberapa peninggalan Kerajaan demak, yaitu Masjid Agung Demak, Soko Tatal dan Soko Guru, Pintu Bleedek, Kentongan, Bedug, Dampar Kencana, Pirim Campa, Kolam Wudhu, dan Makrusah.

Kerajaan Pajang

kerajaan pajang
Kerajaan ini didirikan pada tahun 1568 oleh Sultan Adi Wijaya atau yang lebih dikenal dengan Jaka Tingkir. Jaka Tingkir merupakan menantu dari Sultan Trenggono, setelah menikah dengan putri Sultan Trenggono, Jaka Tingkir menjadi penguasa di Pajang. Setelah Sultan Trenggono meninggal Jaka Tingkir berhasil mengalahkan Arya Penangsang, dan memindahkan kerajaan Demak ke Pajang.
Pada tahun 1582 Jaka Tingkir atau Sultan Adi Wijaya meninggal dan digantikan oleh putranya, Pangeran Benowo. Pada masa kepemerintahan Pangeran Benowo, Pangeran Arya Pangiri dari Demak mencoba untuk merebut Kerajaan Pajang, namun mengalami kegagalan. Pangeran Benowo menyerahkan tahtanya kepada saudara angkatnya, Sutowijoyo.

Kerajaan Mataram Islam

kerajaan mataram islam
Kerajaan ini berdiri pada tahun 1586 di Kotagede, bagian tenggara dari Yogyakarta. Kerajaan ini didirikan oleh Sutowijoyo, saudara dari Pangeran Benowo. Sutowijoyo memiliki gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama setelah naik tahta pada tahun 1586. Pada tahun 1601 Sutowijoyo meninggal dan digantikan oleh Mas Jolang, yang memiliki gelar Panembahan Seda ing Krapyak.
Setelah Raden Mas Jolang meninggal, ia digantikan oleh Adipati Martapura, karena sering mengalami sakit Adipati Martapura pun akhirnya meninggal. Selanjutnya ia digantikan oleh Raden Mas Rangsang yang bergelar Panembahan Hanyakrakusuma, pada tahun 1640 ia mengganti gelarnya menjadi Sultan Agung Hanyakrakusuma, sekitar tahun 1640an ia mengganti gelarnya lagi menjadi Sultan Agung Senapati ing Alaga Ngaburrahman Khalifatullah.
Pada masa pemerintahannya kekuasaaan Kerajaan Mataran islam sangat luas. Kerajaan ini terletak di bekas wilayah Kerajaan Mataram Hindu, namun Kerajaan Mataram ini merupakan kerajaan bercorak islam.
Beberapa peninggalan dari Kerajaan mataram islam, yaitu tahun saka, kue kipo, kerajinan perak, pakaian kyai gundhil, kalang obong, gapura makah kotagede, batu datar, dan sastra gendhing karya Sultan Agung.

Kerajaan Islam Cirebon

kerajaan cirebon
Kerajaan ini berdiri pada tahun 1522, didirikan oleh Raden Fatahillah atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Kerajaan ini merupakan kerajaan islam pertama di Jawa Barat. Raden Fatahillah berjasa dalam menyebarkan agama islam di Jawa Barat. Karena kedudukannya sebagai Wali Songo, sehingga ia banyak dihormati oleh raja-raja lain di pulau Jawa, seperti raja dari Demak dan Pajang. Di bawah kepemimpinannya juga Kerajaan Cirebon ini memiliki banyak wilayah kekuasaan.
Sunan Gunung Jati meninggal pada tahun 1570 dan digantikan oleh cicitnya yang bergelar Panembahan Ratu. Pada tahun 1650 Panembahan meninggal dan digantikan oleh putranya yang bergelar Penaembahan Girilaya. Setelah Panembahan Girilaya meninggal Kerajaan Islam Cirebon dibagi menjadi dua (tahun 1697) oleh kedua puranya, Martawijaya (Panembahan Sepuh) dan Kartawijaya (Panembahan Anom).
Beberapa peninggalan dari Kerajaan Islam Cirebon ini, yaitu Masjid Jami’ Pakuncen, Masjid Sang Cipta Rasa, Keraton Kacirebonan, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Makan, dan beberapa benda pusaka.

Kerajaan Islam Banten

kerajaan banten
Kerajaan ini didirikan pada tahun 1552 oleh Sultan Hasanudin, yang merupakan anak dari Sunan Gunung Jati. Setelah berhasil menaklukan Banten pada tahun 1525 Sunan Gunung Jati menyerahkan kekuasaan Banten kepada putranya tersebut.
Di bawah kepemimpinannya Kerajaan Islam Banten semakin kuat dan memiliki banyak wilayah kekuasaan, bahkan sampai ke Sumatera selatan dan Kelampung. Sultan Hasanudin menikah dengan putri Kerajaan Demak, yaitu putri dari Sultan Indrapura.
Kerajaan ini mencapai puncak kekuasaannya pada saat kepemimpinan Ki Ageng Tirtayasa.  Beberapa peninggalan Kerajaan Islam Banten ini, yaitu Istana Keraton Surosowan Banten, Istana Keraton Kaibon Banten, Masjid Agung Banten, Vihara Avalokitesvara, Benteng Speelwijk, Meriam Ki Amuk, Danau Tasikardi, Keris Naga Sasra, dan Keris Panunggul Naga.

Kerajaan Islam Banjar

kerajaan banjar
Kerajaan ini berdiri pada tahun 1520, terletak di Kalimantan Selatan. Dengan bantuan dari Kerajaan Demak, Kerajaan Banjar berhasil meruntuhkan kekuasaan Kerajaan Nagaradaha, kerajaan yang menguasai Banjarmasin pada saat itu. Bantuan tersebut tidak diberikan secara gratis, ada syarat yang harus dipenuhi oleh Kerajaan Banjar, yaitu memeluk agama islam.
Raja pertama dari Kerajaan Islam Banjar adalah Raden Samudra. Setelah masuk islam mendapat gelar Sultan Suryanullah. Setelah wafat, ia digantikan oleh Sultan Rahmatullah (1545-1570). Dalam waktu yang cukup singkat agama islam juga mulai dianut olh masyarakat di Kalimantan, seperti Bugis, dan masyarakat bagian timur Kalimantan. Peninggalan dari Kerajaan Islam Banjar, yaitu Masjid Sultan Suriansyah dan Candi Agung Amuntai.

Kerajaan Kutai Kalimantan Timur

kerajaan kutai di kalimantan timur
Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri sekitar abad ke-13 M. Raja pertama kerajaan tersebut adalah Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325). Sekitar abad ke-16 M, kerajaan ini pernah menaklukan Kerajaan Kutai Martadipura (Kerajaan Kutai bercorak Hindu-Budha), sehingga kedua kerajaan tersebut dapat disatukan dan namanya berubah menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Islam mulai masuk di Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ini sekitar abad ke-17 M, yang dibawa oleh Tuan Tunggang Parangan. Karena raja pada saat itu telah memeluk agama islam sehingga ia segera membangun sebuah masjid di daerah tersebut. Selain membangun sebuah masjid, ia juga membuka pengajaran agama islam.
Demikianlah, paparan kami terkait beberapa kerajaan islam yang
Read More

PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA AGAMA DAN KEBUDAYAAN ISLAM SERTA WUJUD AKULTURASINYA DI INDONESIA

Maret 13, 2019 |

PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA AGAMA DAN KEBUDAYAAN ISLAM SERTA WUJUD AKULTURASINYA DI INDONESIA.

Menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, terdapat 3teori yang menyatakan tentang proses masuknya agama islam di Indonesia, yaitu :

1.   Teori Gujarat  

              Teori  ini berpendapa bahw agam Isla masu k Indonesi pad aba 1 danpembawanya        
         berasal  dari Gujarat (Cambay), India. Dasar dari teori ini adalah:
  1. Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia
  2. Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia -Cambay Timur Tengah  Eropa.
  3.  Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh  tahun 1297 yang bercorakkhas Gujarat.

Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard
H.M. Vlekke. Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya padasaat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai. Hal ini jugabersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah singgah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah banyak penduduk yangmemeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang menyebarkan ajaran Islam.

2.   Teori Makkah
Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap  teori Gujarat.

Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir).
Dasar teori ini adalah:
a.   Pad aba k  yait tahu 67 d panta bara Sumater suda terdapat
perkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudahmendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan beritaCina.
b.   Kerajaan  Samudra  Pasai  menganut  aliran  mazhab  Syafi’i,  dimana  pengaruh mazhabSyafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan
Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.
c.   Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal dari Mesir.

Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van  Leur dan T.W. Arnold. Para ahli yangmendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik Islam, jadimasuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.

 3.   Teori Persia
Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya berasal dariPersia (Iran).
Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesiaseperti:
a.   Peringatan  10  Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein cucu NabiMuhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran. Di Sumatr Barat peringata tersebu disebu denga upacar Tabuik/TabutSedangkan di pulau Jawaditandai dengan pembuatan bubur Syuro.

b.   Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu
Al – Hallaj.
c.   Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf  Arab untuk tanda- tanda bunyiHarakat.
d.   Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik.
e.   Adanya perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik. Leren adalah nama sala satu Pendukun teor in yait Umar Ami Huse da P.A Hussein Jayadiningrat.

Ketig teor tersebut pad dasarny masing-masin memilik kebenara dankelemahannya. Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islammasuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke  7 dan mengalami perkembangannyapada abad 13. Sebagai pemegang peranan dalam penyebaran Islam adalah bangsa Arab, bangsaPersia dan Gujarat (India).

Proses masuk dan berkembangnya Islam ke Indonesia pada  dasarnya dilakukan dengan jalandamai melalui beberapa jalur/saluran yaitu melalui perdagangan seperti yang dilakukan olehpedagang Arab, Persia dan Gujarat.
Pedagan tersebu berinteraksi/bergau denga masyaraka Indonesia Pada kesempatantersebut dipergunakan  untuk menyebarkan ajaran Islam. Selanjutnya diantara pedagangtersebut ada yang terus menetap, atau mendirikan perkampungan, seperti pedagang Gujarat mendirikan perkampungan Pekojan.
Dengan adanya perkampungan pedagang, maka interaksi semakin sering bahkan ada yangsampai menikah dengan wanita Indonesia, sehingga proses penyebaran Islam semakin cepat berkembang.
Perkembangan Islam yang cepat menyebabkan muncul tokoh ulama atau mubaliqh yangmenyebarkan Islam melalui pendidikan dengan mendirikan pondok-pondok pesantren.

Pondok pesantren adalah tempat para pemuda dari berbagai daerah dan kalanganmasyarakat menimba ilmu agama Islam. Setelah tammat dari pondok tersebut, maka parapemuda menjadi juru dakwah untuk menyebarkan Islam di daerahnya masing- masing.

Di samping penyebaran Islam melalui saluran yang telah dijelaskan di atas, Islam jug disebarkan melalu kesenian misalny melalu pertunjukka sen gamelan ataupun wayang kulit. Dengandemikian Islam semakin cepat berkembang dan mudah diterima oleh rakyat Indonesia.


Proses penyebaran Islam di Indonesia atau proses Islamisasi tidak terlepas dari perananpara pedagang, mubaliqh/ulama, raja, bangsawan atau para adipati.

Di pulau Jawa, peranan mubaliqh dan ulama tergabung dalam kelompok para wali yangdikenal dengan sebutan Walisongo atau wali sembilan yang terdiri dari:
1.   Maulana Malik Ibrahim dikenal dengan nama Syeikh Maghribi menyebarkan Islam
di Jawa Timur.
2.   Sunan Ampel dengan nama asli Raden Rahmat menyebarkan Islam di daerah
Ampel Surabaya.
3.   Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel memiliki nama asli Maulana Makdum
Ibrahim, menyebarkan Islam di Bonang (Tuban).
4.   Sunan  Drajat juga putra dari Sunan Ampel nama aslinya adalah Syarifuddin, menyebarkan Islam di daerah Gresik/Sedayu.
5.   Sunan Giri nama aslinya Raden Paku menyebarkan Islam di daerah Bukit Giri
(Gresik)
6.   Sunan Kudus nama aslinya Syeikh Ja’far Shodik menyebarkan ajaran Islam di daerahKudus.
7.   Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Mas Syahid atau R. Setya menyebarkan ajaran Islamdi daerah Demak.
8.   Sunan  Muria  adalah  putra  Sunan  Kalijaga  nama  aslinya  Raden  Umar  Syaid menyebarkan islamnya di daerah Gunung Muria.
9.   Sunan Gunung Jati nama aslinya Syarif Hidayatullah, menyebarkan Islam di Jawa
Barat (Cirebon)

Demikia sembila wal yan sanga terkena d pula Jawa Masyaraka Jawa sebagian  memandang para wali memiliki kesempurnaan hidup dan selalu dekat dengan Allah, sehingga dikenal dengan sebutan Waliullah yang artinya orang yang dikasihi Allah.



 Wujud Akulturasi Kebudayaan Indonesia dan Kebudayaan Islam

Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak kebudayaan yangdipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha seperti yang pernah Anda pelajari pada modulsebelumnya.

Denga masukny Islam Indonesi kembal mengalam prose akulturas (prosesbercampurnya dua (lebih) kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi), yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia. Masuknya Islam tersebut tidak berarti kebudayaan Hindu dan Budha hilang.

Bentu buday sebaga hasi dar prose akulturas tersebut tida hany bersifatkebendaan/material tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat Indonesia.

Untuk lebih memahami wujud budaya yang sudah mengalami proses akulturasi dapat
Anda simak dalam uraian materi berikut ini.

1.   Seni Bangunan
Wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan masjid, makam, istana. Untuk lebih jelasnya  berikut ini penjelasan tentang wujud akulturasi tsb

Wujud akulturasi dari masjid kuno memiliki ciri sebagai berikut:
a.   Atapnya berbentuk tumpang yaitu atap yang bersusun semakin ke atas semakin kecil daritingkatan paling atas berbentuk limas. Jumlah atapnya ganjil 1, 3 atau
5 Da biasany ditamba denga kemunca untu member tekana akankeruncingannya yang disebut dengan Mustaka.
b.   Tidak dilengkapi dengan menara, seperti lazimnya bangunan masjid yang ada
di luar Indonesia atau yang ada sekarang, tetapi dilengkapi dengan kentongan ataubedug untuk menyerukan adzan atau panggilan sholat. Bedug dan kentongan merupakanbudaya asli Indonesia.
c.   Letak masjid biasanya dekat dengan istana yaitu sebelah barat alun-alun atau bahkandidirikan di tempat-tempat keramat yaitu di atas bukit atau dekat dengan
makam.

Contoh masjid kunodiantaranya adalah Masjid Agung Demak, Masjid Gunung Jati(Cirebon), Masjid Kudus dan sebagainya.


2. Seni Rupa
Tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan. Seni ukir relief yangmenghias Masjid, makam Islam berupa suluran tumbuh-tumbuhan namun terjadi pulaSinkretisme (hasil perpaduan dua aliran seni logam), agar didapat keserasian, misalnya ragamhias pada gambar 1.3. ditengah ragam hias suluran terdapat bentuk kera yang distilir.



3.   Aksara dan Seni Sastra
Tersebarnya agama Islam ke Indonesia maka berpengaruh terhadap bidang aksara atautulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan berkembang tulisan ArabMelayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab gundul yaitu tulisan Arab yang dipakaiuntuk menuliskan bahasa Melayu tetapi tidak menggunakan tanda- tanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab.

Di samping itu juga, huruf Arab berkembang menjadi seni  kaligrafi yang banyak digunakan sebagai motif hiasan ataupun ukiran.

Sedangkan dalam seni  sastra yang berkembang pada awal periode Islam adalah seni sastrayang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu  Budha dan sastra Islam yang banyakmendapat pengaruh Persia.

Dengan demikian wujud akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari tulisan/ aksarayang dipergunakan yaitu menggunakan huruf Arab Melayu (Arab Gundul) dan isi ceritanyajuga ada yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu.

Bentuk seni sastra yang berkembang adalah:
a.   Hikayat   yaitu cerita  atau  dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh sejarah.Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dala bentuk gancara (karanga beba ata prosa) Conto hikaya yang terkenal yaitu Hikayat 1001  Malam, Hikayat Amir  Hamzah, Hikayat  Pandawa
Lima (Hindu), Hikayat Sri Rama (Hindu).
b.   Babad adalah kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap sebagai peristiwa sejarahcontohnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.
c.   Suluk adalah kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuf contohnya Suluk
Sukarsa, Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang dan sebagainya.
d.   Primbon adalah hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk kitab yangberisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik/buruk.

Bentuk seni sastra tersebut di atas, banyak berkembang di Melayu dan Pulau Jawa. Dari penjelasa tersebut apakah And suda memahami kala suda paham silahkandiskusikan dengan teman-teman Anda, untuk mencari contoh bentuk seni sastra,  seperti yang  tersebut  di  atas  yang  terdapat  di  daerah Anda.  Selanjutnya simaklah uraian materiwujud akulturasi berikutnya.


4.   Sistem Pemerintahan
Dala pemerintahan sebelu Isla masu Indonesia suda berkembangpemerintahan yang bercorak Hindu ataupun Budha, tetapi setelah Islam masuk, makakerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu/Budha mengalami keruntuhannya dan digantikanperanannya oleh kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam seperti Samudra Pasai, Demak, Malaka dansebagainya.

Sistem pemerintahan yang bercorak Islam, rajanya bergelar Sultan atau Sunan seperti halnya  para wali  dan  apabila  rajanya  meninggal  tidak  lagi  dimakamkan  dicandi/
dicandikan tetapi dimakamkan secara Islam.



5.   Sistem Kalender
Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah mengenal KalenderSaka (kalender Hindu) yang dimulai tahun 78M. Dalam kalender Saka ini ditemukan  nama-nama  pasaran  hari  seperti  legi pahing,  pon,  wage  dan  kliwon. Apakah sebelumnya Andapernah mengetahui/mengenal hari-hari pasaran?

Setelah berkembangnya Islam Sultan Agung dari Mataram menciptakan kalender Jawa, denganmenggunakan perhitungan peredaran bulan (komariah) seperti tahun Hijriah (Islam).

Pada kalender Jawa, Sultan Agung melakukan perubahan pada nama-nama bulan sepertiMuharram diganti dengan Syuro, Ramadhan diganti dengan Pasa. Sedangkan nama-nama haritetap menggunakan hari-hari sesuai dengan bahasa Arab. Dan bahkan hari pasaran pada kalender saka juga dipergunakan.

Kalender Sultan Agung tersebut dimulai tanggal 1 Syuro 1555 Jawa, atau tepatnya
1 Muharram 1053 H yang bertepatan tanggal 8 Agustus 1633 M.

Read More